Film Animasi Merah Putih: One For All (via Youtube Perfikl TV)
JAKARTA, BEENEWS.CO.ID – Film animasi Merah Putih: One For All mendadak jadi sorotan warganet usai trailer-nya beredar, karena kualitas yang dinilai jauh dari ekspektasi. Proyek garapan Perfiki Kreasindo itu menuai kritik setelah detail biaya dan proses produksi ikut terungkap.
Film yang disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, serta diproduseri oleh Toto Soegriwo, diklaim menghabiskan biaya hingga Rp6,7 miliar dengan waktu pengerjaan kurang dari satu bulan. Tenggat yang sangat singkat itu memunculkan dugaan publik bahwa produksi dikebut agar tayang bertepatan dengan momen 17 Agustus.
Informasi ihwal kontroversi tersebut ramai dibahas di media dan linimasa.
Kritik kian deras setelah YouTuber Yono Jambul mengungkap sejumlah aset dalam film—mulai latar jalanan hingga karakter—dibeli dari toko digital seperti Daz3D. “Mereka ada adegan jalan kan. Nah mereka belinya aset Street of Mumbai. Aneh banget kan makanya jalannya,” ujar Yono, dilansir dari Detik Senin (11/8) .
Penggunaan aset siap pakai tanpa penyesuaian memadai dinilai membuat nuansa lokal minim dan keseluruhan tampak janggal. Di lini komentar, warganet mempertanyakan selera artistik tim animasi serta membandingkan anggaran miliaran rupiah itu dengan kualitas yang terlihat. Sebagai pembanding, biaya produksi anime populer seperti One Piece atau Demon Slayer per episode disebut sekitar Rp1,8 miliar dengan mutu animasi yang dianggap jauh lebih baik.







