Ilustrasi. Unsplash/PawelJaniak .
JAKARTA, BEENEWS.CO.ID – Gelombang kerusuhan melanda Angola usai pemerintah negara itu menaikkan harga bahan bakar dari 300 kwanza (Rp 5.400) menjadi 400 kwanza (Rp 7.000) per liter per 1 Juli. Kebijakan tersebut memperburuk tekanan biaya hidup di tengah inflasi tinggi dan pengangguran, memicu aksi protes dan penjarahan di berbagai kota besar.
Menteri Dalam Negeri Angola, Manuel Homem, mengatakan bahwa kerusuhan telah menewaskan sedikitnya 22 orang, termasuk seorang anggota kepolisian. “Hampir 200 orang terluka dalam kekerasan tersebut, dan lebih dari 1.200 orang telah ditangkap,” ujar Homem, dikutip dari Reuters, Rabu (31/7).
Toko dan tempat usaha di ibu kota Luanda dilaporkan tutup sepanjang hari, sementara pasukan keamanan dikerahkan ke sejumlah titik. Jalan-jalan utama tampak lengang, meski masih terlihat antrean warga di beberapa stasiun pengisian bahan bakar dan toko kebutuhan pokok.
Insiden terpisah terjadi di kota Lubango, di mana seorang remaja berusia 16 tahun ditembak mati oleh polisi setelah diduga ikut dalam aksi massa yang mencoba menyerbu markas partai berkuasa MPLA. “Remaja itu merupakan bagian dari kelompok yang mencoba menyerbu markas partai MPLA,” demikian pernyataan resmi kepolisian setempat.
Protes besar juga terjadi di Luanda pada Sabtu (27/7), dengan sekitar 2.000 orang turun ke jalan menolak kenaikan harga bahan bakar dan menuduh adanya praktik korupsi di tubuh pemerintahan. Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari demonstrasi serupa dua pekan sebelumnya.








