Citra satelit pulau-pulau kecil di Raja Ampat. (Googe Maps)
JAKARTA, BEENEWS.CO.ID – Pakar dan Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Setiadi Daryono, mengatakan bahwa pemerintah harus segera menghentikan aktivitas penambangan di pulau-pulau kecil di Indonesia. Ia khawatir aktivitas tersebut merusak biodiversitas atau keanekaragaman hayati.
“Pulau kecil memiliki ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan. Ekosistemnya sangat unik. Begitu dia dieksploitasi maka dampaknya langsung terasa.” kata Budi dilansir laman resmi UGM, dikutip Sabtu (28/6/2025).
Menurut Budi, aktivitas pertambangan tidak hanya memberikan dampak buruk pada ekosistem darat, tetapi juga turut merusak lingkungan laut. Hal ini disebabkan oleh sedimentasi yang menyebabkan air laut menjadi keruh, sehingga mengurangi intensitas cahaya matahari yang menembus ke dasar laut. Akibatnya, berbagai organisme laut seperti lamun, ganggang, mikroalga, dan terumbu karang bisa mati.
Selain itu, bahan kimia yang digunakan dalam proses penambangan turut mencemari air laut. “Pada akhirnya, polusi air ini akan kembali kepada manusia melalui rantai makanan laut akibat biota yang terpaksa hidup pada perairan berpolusi,” imbuh Budi.
Tak hanya berdampak secara fisik dan kimia, kegiatan pertambangan juga memicu gangguan berupa pencemaran suara dan cahaya yang dapat mengubah perilaku sejumlah spesies. Misalnya, penyu cenderung menghindari wilayah bercahaya terang sehingga enggan mendarat untuk bertelur.







