JAKARTA, BEENEWS.CO.ID – Polusi udara di ibu kota Jakarta dinilai makin mengkhawatirkan. Kondisi itu sampai pada titik tidak sehat setidaknya dalam beberapa pekan terakhir. Yang teranyar, Presiden Jokowi dikabarkan mengalami batuk-batuk hampir selama empat pekan akibat polusi Jakarta.
Penyebab utama tercemarnya udara di Jakarta masih menjadi perdebatan. Pihak otoritas pemerintah menduga akar masalahnya adalah asap dari kendaraan berbahan bakar fosil, sementara masyarakat menduga masalah utamanya adalah limbah asap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara di ujung barat Banten.
Mencari jalan keluar secara sistematis tentu tak mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Terdapat cara antisipasi di level individu yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak buruk polusi udara.
Menurut Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, cara pertama yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri untuk meminum air putih untuk menghindari batuk-batuk.
“Baik kalau banyak minum, karena akan mengencerkan dahak sehingga mudah dikeluarkan dan jalan napas jadi bersih,” ujar Tjandra dalam keterangan tertulisnya Selasa, (15/8/2023).
Apabila telanjur mengalami batuk-batuk, Tjandra menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati memilih obat batuk. Menurutnya, terdapat tiga jenis obat batuk. Pertama, pengencer dahak atau mukolitik. Kedua, pengeluar dahak atau ekspektoran. Ketiga, penekan batuk kering atau antitusif. “Pilihlah sesuai kebutuhan,” ujarnya.








