BEENEWS.CO.ID – Pasukan penjaga perdamaian NATO telah tiba di Kosovo setelah kerusuhan minggu lalu di bagian utara negara itu, demikian pernyataan dari aliansi tersebut, Senin (6/6).
Bentrokan pecah setelah otoritas Kosovo mengangkat wali kota etnis Albania di kantor-kantor pemerintahan di munisipalitas-munisipalitas utara setelah terpilih dengan tingkat partisipasi hanya 3,5%, karena warga Serbia yang merupakan mayoritas di wilayah tersebut memboikot pemilihan lokal.
Saat dilansir dari Reuters, Bentrokan tersebut melukai 30 anggota pasukan penjaga perdamaian NATO yang dikenal sebagai KFOR, serta 52 demonstran Serbia.
“Sejumlah sekitar 500 anggota dari Brigade Infanteri Mekanisasi ke-65 Turki akan menjadi kekuatan utama penguatan,” kata juru bicara NATO, Oana Lungescu, dalam cuitannya di Twitter.
NATO memutuskan untuk menerjunkan personel tambahan sebanyak 700 pasukan penjaga perdamaian ke Kosovo, memperkuat kontingen yang berjumlah 4.000 personel, sebagai respons terhadap krisis ini.
Sekretaris Jenderal aliansi, Jens Stoltenberg, mengatakan bahwa NATO siap mengirim lebih banyak pasukan jika diperlukan.
“NATO akan tetap waspada. Kami akan hadir untuk memastikan lingkungan yang aman dan terjamin, serta untuk menenangkan dan mengurangi ketegangan,” ujarnya di sela-sela pertemuan menteri luar negeri NATO di Oslo.
KFOR didirikan setelah pemberontakan oleh mayoritas etnis Albania pada tahun 1998-1999 melawan pemerintahan Serbia yang represif.
Kosovo memperoleh kemerdekaan yang diakui secara internasional pada tahun 2008, tetapi Serbia menolaknya dan warga Serbia di bagian utara negara tersebut mencari otonomi bagi wilayah mereka berdasarkan perjanjian tahun 2013 yang belum diimplementasikan.
(Ayudia)










