Menu

Play Video

Akhir Cerita Pembunuhan Brigadir J?

JAKARTA, BEENEWS.CO.ID – Sidang kasus pembunuhan Brigadir Yoshua Hutabarat telah mencapai babak akhir, setelah sidang vonis ke lima yang terhitung sejak Senin (13/02/2023) telah dilaksanakan pembacaan putusan bagi terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.

 

Kemudian diikuti pembacaan vonis terhadap terdakwa Kuat Ma’ruf dan Bripka Ricky Rizal dan Selasa (14/02/2023), dan bagi Bharada Richard Eliezer pada Rabu (15/02/2023).

 

Berikut daftar putusan sidang terhadap para terdakwa :

 

  1. Ferdy Sambo

Hakim Ketua Wahyu Iman Santoso menyatakan terdakwa Ferdy Sambo terbukti bersalah dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir Yoshua dan dijerat Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 49 jo Pasal 33 UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Pasal yang menjerat Ferdy Sambo antara lain tentang, terlibat dalam obstruction of justice atau perintangan penyidikan dalam pengusutan penyebab kematian Brigadir Yoshua, serta upaya perusakan CCTV yang menganggu jalannya penyelidikan.

 

Pembacaan vonis oleh Hakim Ketua sebagai berikut, “Mengadili, menyatakan terdakwa Ferdy Sambo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, turut serta melakukan pembunuhan berencana, dan tanpa hak melakukan tindakan yang berakibat sistem elektronik tidak bekerja sebagaimana mestinya, yang dilakukan secara Bersama-sama. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa tersebut dengan pidana mati”.

 

Adapun 7 hal yang memberatkan vonis terhadap Ferdy Sambo yaitu:

 

(1) Tindakan pembunuhan berencana terdakwa terhadap ajudan yang telah mengabdi pada Ferdy Sambo selama 3 tahun;

 

(2) Tindakan terdakwa yang telah menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga Brigadir Yoshua;

 

(3) Akibat Tindakan terdakwa menimbulkan keresahan dan kegaduhan di masyarakat;

 

(4) Tindakan terdakwa tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang yang berkedudukan sebagai apparat penegak hukum dan pejabat utama Polri (Kadiv Propam Polri);

 

(5) Tindakan terdakwa telah mencoreng nama baik institusi Polri di mata masyarakat Indonesia dan internasional;

 

(6) Tindakan terdakwa telah menyebabkan banyaknya anggota Polri lain ikut terlibat;

 

(7) Terdakwa berbelit-belit dalam memberikan keterangan pada persidangan serta tidak mengakui perbuatannya.

 

Hakim Ketua Wahyu mengungkapkan, tidak adanya faktor yang ditemukan yang dapat meringankan vonis terhadap Ferdy Sambo.

 

“Hal yang meringankan, tidak ditemukan adanya hal yang meringankan dalam hal ini”, tandasnya.

 

Vonis putusan oleh Hakim Ketua ini lebih berat dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang memvonis hukuman seumur hidup bagi Ferdy Sambo.

 

  1. Putri candrawathi

Terdakwa Putri Candrawathi dijatuhi vonis oleh Hakim Ketua Wahyu Iman Santoso dengan jeratan Pasal 340 subsider Pasal 338 jo Pasal 55 jo Pasal 56 KUHP yang berisi tentang mengatur tindak pidana pembunuhan berencana dan mengatur soal tindak pidana pembunuhan dengan sengaja.

 

Putusan Hakim Ketua berisikan, “Menyatakan mengadili terdakwa Putri Candrawathi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, turut serta melakukan pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Putri Candrawathi dengan pidana penjara selama 20 Tahun.”

 

Vonis hukuman ini lebih berat dibanding dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang hanya menuntut hukuman 8 tahun penjara. Adapun hal yang memberatkan vonis hukuman bagi Putri Candrawathi yaitu:

 

(1) Terdakwa yang merupakan istri dari seorang Kadiv Propam Polri yang sekaligus sebagai pengurus pusat Bhayangkari, sebagai bendahara umum seharusnya dapat menjadi teladan bagi anggota Bhayangkari lainnya;

 

(2) Tindakan terdakwa mencoreng nama baik organisasi Bhayangkari;

 

(3) Terdakwa berbelit-belit dan tidak berterus terang dalam memberikan keterangan saat persidangan sehingga menghambat jalannya sidang;

 

(4) Terdakwa tidak mengakui kesalahannya dan justru memposisikan dirinya sebagai korban;

 

(5) Tindakan terdakwa telah menimbulkan dampak dan kerugian yang besar terhadap berbagai pihak, baik material maupun moril bahkan memutus masa depan banyak personel anggota kepolisian.

 

Menurut keterangan dari Hakim Anggota, Alimin Ribut Sujono, tidak adanya faktor lain yang meringankan vonis hukuman terhadap Putri Candrawathi, meskipun statusnya sebagai seorang ibu dari 4 orang anak.

 

  1. Kuat Ma’ruf

Hakim Ketua menyatakan Kuat Ma’ruf terbukti bersalah dan terlibat dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yoshua dengan jeratan Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP tentang mengatur dan merencanakan tindak pidana pembunuhan.

 

Bacaan vonis terhadap Kuat Ma’ruf sebagai berikut, “Telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Kuat Ma’ruf dengan pidana penjara selama 15 tahun.”

 

Vonis ini lebih berat dibanding dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang hanya menuntut hukuman penjara 8 tahun.

 

Berikut beberapa hal yang memberatkan vonis terhadap Kuat Ma’ruf:

 

(1) Terdakwa tidak sopan di persidangan;

 

(2) Terdakwa berbelit-belit dan tidak berterus terang dalam memberikan keterangan di persidangan, sehingga menyulitkan jalannya sidang;

 

(3) Terdakwa tidak mengaku bersalah dan memposisikan dirinya tidak mengetahui perkara ini;

 

(4) Terdakwa tidak memperlihatkan rasa bersalah dalam setiap persidangan.

 

  1. Ricky Rizal

Hakim Ketua memvonis hukuman terhadap Ricky Rizal dengan dijerat Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP tentang mengatur dan merencanakan tindak pidana pembunuhan.

 

Adapun isi dari bacaan vonis oleh Hakim Ketua yaitu, “Menyatakan terdakwa atas nama Ricky Rizal telah terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 13 tahun.”

 

Meskipun sebelumnya tuntutan dari JPU sama dengan hukuman bagi Kuat Ma’ruf yakni 8 tahun penjara, namun Hakim Ketua memberikan hukuman bagi Ricky Rizal lebih ringan 2 tahun dibanding Kuat Ma’ruf.

 

Pertimbangan ini didasarkan karena Ricky rizal hanya memiliki 2 hal yang memberatkan yaitu berbelit saat memberikan keterangan dan telah mencoreng nama baik Polri.

 

Selain itu terdakwa masih mempunyai tanggungan keluarga, serta diharapkan terdakwa masih dapat memperbaiki perilakunya dikemudian hari.

 

  1. Richard Eliezer

Richard Eliezer dijatuhi hukuman jauh lebih ringan dibanding dengan tuntutan JPU yang menuntut hukuman 12 tahun penjara.

 

Richard dijerat pasal yang sama yang menjerat Ricky Rizal yakni Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana.

 

Hakim Ketua membacakan vonis berisi “Menyatakan terdakwa atas nama Richard Eliezer telah terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, turut serta melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ricahrd Eliezer Pudihang Lumiu dengan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan”.

 

Hanya terdapat 1 hal yang memberatkan hukuman Richard yaitu ia dinilai tidak menghargai kedekatannya dengan Brigadir Yoshua karena bersedia menuruti perintah Ferdy Sambo untuk membunuh almarhum. Berikut 6 hal yang meringankan vonis hukuman terhadap Richard :

 

(1) Terdakwa merupakan justice collaborator / jc. (saksi pelaku yang yang bekerja sama);

 

(2) Terdakwa bersikap sopan di persidangan;

 

(3) Terdakwa belum pernah dihukum;

 

(4) Terdakwa masih muda dan diharapkan mampu memperbaiki tindakannya di kemudian hari;

 

(5) Terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi;

 

(6) Keluarga korban Brigadir Yoshua telah memaafkan perbuatan terdakwa.

 

Bacaan vonis hukuman terhadap para terdakwa kasus pembunuhan Brigadir Yoshua menuai pro-kontra.

 

Masyarakat Indonesia banyak yang mendukung dan setuju terhadap putusan akhir hakim pada sidang ini.

 

Dari pihak keluarga korban juga merasa puas karena hasil putusan sesuai dengan yang mereka harapkan, yang mana sepadan dengan tindakan yang menewaskan Brigadir Yoshua.

 

Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan vonis hukuman mati bagi Ferdy Sambo telah sesuai sebagai bentuk penegakan keadilan yang diinginkan publik mengingat tindakan yang dilakukan sangat kejam.

 

Namun, berbeda dengan komentar pro dari Menkopolhukam, Presiden Jokowi enggan memberikan tanggapan dan hanya menilai vonis kasus tersebut telah mempertimbangkan banyak bukti dan fakta yang ada.

 

Pihak kontra muncul dari Komnas HAM yang mengecam vonis mati ini dan menilai hukuman mati seharusnya dihapus dari sistem hukum Indonesia karena melanggar hak asasi manusia.

 

Selain itu, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) juga menentang jatuhan vonis mati ini.

 

Adapun rentetan kasus yang mengikuti kasus pembunuhan ini terus diangkat oleh keluarga korban Brigadir Yoshua yang melalui pengacaranya, melaporkan adanya dugaan pencucian uang dan kehilangan barang pribadi milik korban.

 

Tindakan ini diduga dilakukan oleh pihak Ricky Rizal secara pribadi ataupun dari perintah Putri Candrawathi.

 

Keluarga korban mendapati hilangnya dua buah handphone, laptop, jam tangan, beberapa kartu ATM, serta buku rekening milik korban.

 

Selain itu adanya dugaan pencucian uang milik korban yang hilang sebanyak 200 juta rupiah setelah korban dimakamkan.

 

Laporan ini dimasukkan ke Polres Jakarta Selatan pada Rabu (15/02/2023) kemarin. Sehingga penyelidikan kasus ini masih berlanjut.

(Lauren)

Play Video
WhatsApp Image 2024-06-15 at 14.24.22
Play Video
Play Video

Bukan HOAX Share Yuk!!!

Bagikan berita kepada kerabat dan teman di chat atau sosial media!

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Artikel Terkait

Tol Sungai Mentaya Jangan Sekedar Impian Tapi Realistis

KOTIM.BEENEWS.CO.ID – Untuk dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berupaya menggali potensi Sungai Mentaya yang dimilikinya.   “Salah satunya adalah

Berita Populer Bulan Ini

graha pramuka
WhatsApp Image 2024-05-21 at 15.45.34
WhatsApp Image 2024-05-21 at 15.45.34
graha pramuka
graha
graha pelantaran
graha pelantaran
graha